Way Kanan — Di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis nilai kebersamaan, sebuah pemandangan mengharukan dan penuh inspirasi datang dari Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan. Semangat membangun
kampung halaman tumbuh subur dari ketulusan hati nurani masyarakatnya.
Ada yang sangat berbeda dalam kegiatan gotong royong kali ini. Bila gotong royong selama ini identik dan didominasi oleh kaum laki-laki, hal sebaliknya justru terjadi di kampung ini. Kaum ibu-ibu dengan penuh semangat dan sukacita turut serta membaur bersama para pria, mengangkat material, hingga membersihkan lingkungan demi kemajuan desa.
Kehadiran para wanita tangguh ini seolah mendobrak batasan, sekaligus membuktikan bahwa cinta terhadap tanah kelahiran tidak mengenal gender. Dengan senyum yang tersungging di wajah, mereka berbaur, berpeluh, dan saling bahu-membahu.
Semangat kebersamaan yang luar biasa ini tidak lepas dari sentuhan kepemimpinan Kepala Kampung Bali Sadhar Utara, I Ketut Renu Astika. Sosok pemimpin yang dikenal dekat dengan warganya ini mampu membakar kembali api gotong royong yang perlahan memudar akibat kesibukan zaman.
Melalui pendekatan yang merangkul dan menginspirasi, ia berhasil menyadarkan masyarakat bahwa membangun desa adalah tanggung jawab bersama.
"Gotong royong adalah warisan leluhur kita. Melihat ibu-ibu turun tangan langsung hari ini, ini adalah bukti nyata bahwa rasa memiliki dan cinta terhadap Kampung Bali Sadhar Utara ini murni tumbuh dari hati nurani yang paling dalam. Ini adalah energi baru bagi kita semua," ujar I Ketut Renu Astika dengan penuh rasa bangga.
Di era modern yang serba individualis ini, apa yang dilakukan oleh warga Kampung Bali Sadhar Utara menjadi oase yang menyejukkan. Ini adalah potret kebersamaan sejati, di mana tua, muda, laki-laki, dan perempuan bersatu padu.
Canda tawa dan keringat yang mengalir di bawah terik matahari menjadi saksi bisu perjuangan masyarakat. Melalui langkah kecil yang dilakukan bersama-sama ini, Kampung Bali Sadhar Utara tidak hanya membangun infrastruktur fisik desa, tetapi juga mempererat jalinan tali persaudaraan yang tak ternilai harganya.(Penulis Firman)
