BANDAR LAMPUNG — Gemuruh tepuk tangan dan tangis haru pecah di Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung (Unila). Di tengah kepungan 1.800 atlet dari berbagai provinsi, seorang bocah mungil berusia 4 tahun berdiri tegak dengan medali emas menggantung di dadanya.
Dia adalah Jelita Putri Ravan (Jeje), atlet cilik ajaib perwakilan Saburai Taekwondo Club Kabupaten Way Kanan. Siswi TK Kartini Bali Sadhar Tengah ini sukses menguras air mata takjub para penonton setelah kembali merebut Juara 1 kategori Poomsae pada Kejuaraan Taekwondo Gubernur Lampung Cup II yang berlangsung 15-17 Mei 2026.
Prestasi ini bukan sekadar kemenangan biasa. Bagi Jeje, ini adalah pembuktian magis sebuah bakat langka. Di usianya yang bahkan belum menyentuh lima tahun, Jelita telah mencetak hat-trick luar biasa: tiga kali berturut-turut meraih medali emas di tiga ajang kompetisi taekwondo berbeda.
Tensi pertandingan di Gubernur Lampung Cup II tahun ini sebenarnya sangat mencekam. Di bawah pengawasan ketat Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), kompetisi ini diikuti oleh atlet-atlet tangguh lintas provinsi, mulai dari Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, hingga Jawa Timur.
Namun, atmosfer yang intimidatif itu sama sekali tidak menyiutkan nyali Jeje Saat anak-anak seusianya masih asyik bermain, Jelita justru melangkah ke atas matras dengan tatapan mata yang begitu fokus.
Di bawah bimbingan tangan dingin sang pelatih, Sabem Diah Ayu Andini, Jeje memperagakan jurus demi jurus Poomsae dengan keanggunan dan ketepatan teknik yang matang. Setiap gerakannya memancarkan kombinasi keindahan, disiplin, dan semangat juang tinggi yang melampaui usianya. Penonton seolah tersihir, melihat bagaimana tubuh sekecil itu mampu menguasai matras pertandingan dengan begitu perkasa.
Keberhasilan Jelita mencetak sejarah baru ini menyisakan cerita menyentuh di balik layar. Pelatih Saburai Taekwondo Club Way Kanan, Sabem Diah Ayu Andini, tidak mampu menyembunyikan rasa bangga sekaligus harunya usai pengumuman skor.
"Melihat Jeje di atas matras selalu membuat jantung kami berdegup kencang, bukan karena ragu, tapi karena takjub. Di usia empat tahun, dia menunjukkan disiplin yang bahkan sering kali sulit diikuti oleh atlet dewasa. Kemenangan ini adalah buah dari air mata latihan, kepatuhan, dan mental baja yang dia miliki," ujar Diah Ayu Andini dengan suara bergetar menahan haru.
Diah menambahkan bahwa Jeje bukan sekadar pemenang, melainkan simbol harapan baru bagi dunia olahraga sejak usia dini.
"Dia membuktikan kepada kita semua bahwa usia hanyalah angka. Tidak ada batasan untuk mulai bermimpi dan mengukir prestasi emas," lanjutnya.
Kini, Jelita Putri Ravan (Jeje) pulang ke Way Kanan tidak hanya membawa pulang sekeping logam emas, melainkan juga kebanggaan besar bagi daerahnya. Cerita hebat dari matras GSG Unila ini akan terus dikenang sebagai kisah tentang keberanian seorang bocah 4 tahun yang berhasil menaklukkan panggung olahraga regional.(Firman)
