Rabu, 29 Juli 2026, 7/29/2026 08:41:00 AM WIB
Last Updated 2026-07-29T01:41:11Z
Daerah

Perebutan Kursi Cawabup Way Kanan: Menguji Komitmen Eksekutif dan Menanti Duet Ideal bagi Bupati Ayu

 


Oleh : Firman,

Way kanan -Bola panas pengisian kursi Wakil Bupati Way Kanan yang lowong kini resmi menggelinding ke meja eksekutif. Koalisi partai politik pengusung pasangan Ali Rahman–Ayu Asalasiyah secara resmi telah menyodorkan dua nama ke meja Bupati: M. Galang Putra Rahman dan Soni Setiawan. Langkah politik ini bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan sebuah ujian krusial bagi masa depan tata kelola pemerintahan di "Bumi Ramik Ragom". 


Bagi kalangan profesional dan publik Way Kanan, dinamika ini memunculkan daya tarik tersendiri. Kehadiran dua figur tersebut membawa narasi dan kekuatan politik yang kontras namun sama-sama memikat.


Nama M. Galang Putra Rahman membawa resonansi emosional yang kuat. Sebagai putra dari almarhum Ali Rahman (Bupati terpilih yang berpulang), pencalonan legislator muda Partai Gerindra ini dipandang publik sebagai bentuk melanjutkan mandat dan visi besar mendiang ayahnya. Dukungan solid dari gerbong koalisi besar—seperti Gerindra, PAN, PKS, Demokrat, dan PKB—menjadikan posisi Galang berada di atas angin politik secara matematis. 


Di sisi lain, munculnya nama Soni Setiawan memberikan opsi rasional bagi sistem pemerintahan. Publik dan para profesional kini menakar, apakah Way Kanan membutuhkan dorongan energi muda yang masif, ataukah figur penyeimbang yang mampu menjaga ritme kerja eksekutif agar tetap harmonis. 


Bupati Way Kanan, Ayu Asalasiyah, yang menerima langsung berkas usulan tersebut, kini memegang kunci awal sebelum menyerahkannya ke pimpinan DPRD Kabupaten Way Kanan. Bagi para profesional, tantangan nyata setelah kursi ini terisi adalah penyelesaian pekerjaan rumah (PR) daerah yang menumpuk. Keluhan warga mengenai perbaikan infrastruktur jalan yang mendesak, hingga akselerasi ekonomi daerah, menuntut figur Wakil Bupati yang bukan sekadar "ban serep", melainkan mitra strategis bagi Bupati Ayu. 


Proses pemilihan yang nantinya bergulir melalui mekanisme di DPRD Way Kanan harus dikawal secara transparan. Publik berharap dinamika ini berjalan cepat tanpa penundaan, agar kekosongan kepemimpinan tidak mengorbankan kualitas pelayanan publik dan jalannya roda pemerintahan. 


Kini, keputusan ada di tangan para pembuat kebijakan. Siapa pun yang akhirnya terpilih mendampingi Bupati Ayu, masyarakat Way Kanan menanti pembuktian nyata: apakah restu eksekutif ini akan melahirkan duet kepemimpinan yang responsif, akuntabel, dan mampu membawa Way Kanan menuju kemajuan yang konkret? Bola kini berputar, dan publik sedang mengamati ke mana ia akan mendarat. (**)