WAY KANAN – Kabupaten Way Kanan resmi menginjak usia ke-27 tahun hari ini. Di tengah gegap gempita perayaan seremonial dan deretan karangan bunga, ada satu kado yang paling setia mendampingi warga selama puluhan tahun: lubang jalan yang tak kunjung sirna.
Momen pertambahan usia ini seolah menjadi pengingat pahit tentang jurang lebar antara harapan dan realitas. Jika di usia 27 tahun seorang manusia dianggap sedang dalam masa produktif, warga Way Kanan justru mempertanyakan kapan "produktivitas" pembangunan infrastruktur bisa benar-benar mereka rasakan tanpa perlu menunggu puluhan tahun lagi.
"Selamat ulang tahun Way Kanan. Di tahun ke-27 ini, kami hanya punya satu doa sederhana: semoga pemerintah sadar bahwa jalan yang baik adalah hak warga, bukan keistimewaan atau hadiah mewah yang harus kami tunggu seumur hidup," ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya saat melintasi jalanan yang lebih mirip kubangan kerbau.
Sindiran ini bukan tanpa alasan. Bagi masyarakat Way Kanan, akses jalan yang layak seolah menjadi barang langka yang hanya muncul di dalam janji kampanye atau pidato-pidato formal. Padahal, infrastruktur yang baik adalah urat nadi ekonomi, bukan sekadar "bonus" dari kebijakan pemerintah.
Ironi ini kian terasa saat spanduk-spanduk ucapan selamat ulang tahun bertebaran di pinggir jalan yang rusak parah. Warga berharap, di angka 27 ini, pemerintah daerah tidak hanya piawai merayakan angka, tetapi juga piawai dalam bekerja nyata.
Sebab, rakyat tidak butuh seremoni mewah jika untuk menuju pusat pemerintahan saja mereka harus bertaruh nyawa dan kendaraan di jalanan yang hancur. Sudah saatnya pemerintah berhenti menganggap aspal mulus sebagai sebuah "prestasi luar biasa", melainkan sebagai kewajiban dasar yang sudah lama tertunda.
Mungkin, kado terbaik bagi Way Kanan di usia ke-27 ini bukanlah kue ulang tahun, melainkan komitmen nyata untuk menutup lubang-lubang di jalanan—dan lubang di hati rakyat yang sudah terlalu lama dijanjikan perubahan.(Red)
