LAMPUNG TENGAH – Di bawah langit cerah Idul Fitri 1447 Hijriah, sebuah pemandangan yang menggetarkan jiwa tersaji di jantung Kabupaten Lampung Tengah. Di tengah gema takbir yang menggetarkan angkasa, hadir sesosok pemimpin yang datang bukan sekadar dengan atribut jabatan, melainkan dengan hati yang tulus memeluk keberagaman.
Ia adalah I Komang Koheri, S.E., M.Sos., Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Tengah. Meski langkah kakinya berpijak pada keyakinan Hindu yang taat, pagi itu ia berdiri tegap di pelataran masjid, menyambut saudara-saudaranya umat Muslim yang baru saja menyelesaikan ibadah Shalat Id.
Suasana seketika berubah haru saat Komang Koheri mulai berbaur. Tak ada jarak, tak ada sekat. Dengan senyum yang tulus, ia menjabat tangan para lansia, memeluk hangat pemuda, dan mengusap kepala anak-anak kecil yang merayakan hari kemenangan. Di matanya, tak ada perbedaan warna keyakinan—yang ada hanyalah keluarga besar "Bumi Beguai Jejamo Wawai".
"Hari ini kita tidak bicara tentang perbedaan. Kita bicara tentang kemenangan hati dan persaudaraan," ucapnya dengan suara yang tenang namun bergetar penuh ketulusan. "Idul Fitri adalah momentum kita semua untuk kembali fitri, kembali suci, dan semakin solid membangun rumah kita bersama, Lampung Tengah."
Simbol Nyata Bhinneka Tunggal Ika
Bagi warga yang hadir, kehadiran Komang Koheri adalah oase di tengah dunia yang terkadang lelah dengan perbedaan. Sejak masa Safari Ramadhan, ia memang tak lelah berkeliling desa, memastikan bahwa pemerintah hadir di setiap denyut nadi kehidupan masyarakat, tanpa memandang siapa menyembah siapa.
Seorang warga sepuh dengan mata berkaca-kaca mengungkapkan perasaannya. "Melihat beliau hadir di sini, rasanya seperti melihat wajah asli Indonesia. Beliau pemimpin yang merangkul kami dengan hati," bisiknya haru.
Momen Idul Fitri 1447 H ini bukan sekadar seremoni protokol belaka. Ini adalah sebuah catatan sejarah tentang bagaimana Pancasila dicintai dan dipraktikkan secara nyata. I Komang Koheri telah menunjukkan bahwa toleransi bukanlah sekadar kata-kata di atas kertas, melainkan sebuah tindakan nyata: hadir, mendengarkan, dan mengasihi.
Di sela-sela kegiatannya, ia menekankan bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang membuat Lampung Tengah menjadi lebih indah. (Penulis: Firman)
